TEKNIK DAN MODEL BK
PENGANTAR TEORI
TEKNIK DAN MODEL KONSELING
Dosen Pengampu: Elina Raharisti, S.Psi., M.A.

Disusun oleh:
Debhie Afriani Carrera (131221049)
BKI 4B
FAKULTAS USHULUDDIN DAN
DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
SURAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG
Konseling merupakan sebuah penemuan abad ke_20 yang muncul berdasarkan
atas tuntutan kompleksitas kehidupan masyarakat. Dalam proses perjalanan hidup
individu dapat mengalami peristiwa dan situasi yang menimbulkan masalah yang
mungkin tidak dapat diatasi. Alternatif yang pada umumnya digunakan untuk
mengatasi masalah yang dihadapi individu adalah membicarakannya dengan
keluarga, teman, guru, dan ahli agama.
Di Indonesia perkembangan profesi konselor sekolah atau guru bimbingan
dan konseling telah diawali sejak tahun 1960-an. Bimbingan konseling masuk
kedalam kurikulum sekolah sejak kurikulum tahun 1965 yang mencantiumkan, bahwa
pelayanan bimbingan dan konseling merupakan layanan yang tidak terpisahkan dari
keseluruhan sistem pendidikan di sekolah.
Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari bahasa inggris Guidance and counseling. Kata “guidance”
berasal dari kata kerja to guide yang
berarti memimpin, menunjukkan, atau membimbing ke jalan yang baik. Jadi kata
“guidance” dapat berarti pemberian pengarahan atau pemberian petunjuk kepada
seseorang. Sedangkan “counseling”
berasal dari kata kerja to counsel yang
berarti menasehati, atau menganjurkan kapada seseorang secara face to face.
Bahwasannya dalam proses konseling itu memerlukan teori teknik dan
model dalam proses konselingnya. Dan dalam konseling itu ada dua macam ialah
individu dan kelompok.
Teori adalah model yang digunakan olah konselor sebagai panduan untuk
merumuskan pembentukan solusi atas suatu masalah. Pemahaman teoretis adalah
bagaian esensial dalam praktek konseling yang evektif. Konselor menentukan
teori yang akan digunakan berdasarkan latar belakang pendidikan, filosofi, dan
kebutuhan kliennya. Tidak semua pendekatan tepat digunakan bagi semua konselor maupun
klien.
I.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Apa
yang di maksud konseling?
2.
Apa
yang di maksud konseling individu dan kelompok?
3.
Apa
yang di maksud teori konseling?
4.
Apa
yang di maksud teknik konseling?
5.
Apa
yang di maksud Model Bimbingan dan Konseling?
I.3 TUJUAN
- Untuk mengetahui apa yang dimaksud konseling.
- Untuk mengetahui apa
yang di maksud konseling individu dan kelompok.
- Untuk mengetahui apa
yang di maksud teori konseling.
- Untuk mengetahui apa
yang di maksud teknik konseling.
- Untuk mengetahui apa
yang di maksud Model Bimbingan dan Konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari bahasa inggris Guidance and counseling. Kata “guidance”
berasal dari kata kerja to guide yang
berarti memimpin, menunjukkan, atau membimbing ke jalan yang baik. Jadi kata
“guidance” dapat berarti pemberian pengarahan atau pemberian petunjuk kepada
seseorang. Sedangkan “counseling”
berasal dari kata kerja to counsel yang
berarti menasehati, atau menganjurkan kapada seseorang secara face to face.
Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya
sendiri untuk menemukan dan mengembangkan agar memperoleh kebahagiaan pribadi
dan kemanfaatan sosial. Bisa diartikan ini juga, bimbingan adalah proses yang
terus menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuan
secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi
dirinya maupun bagi masyarakat.
Konseling adalah salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan diantara
beberapa teknik lainnya, namun konseling. Konseling juga bisa diartikan sebagai
serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia
dalam merubah sikap dan tingkah laku. Intinya Konseling ialah bentuk bantuan yang diberikan secara profesional dari
seorang yang ahli kepada individu yang memerlukan bantuan. Menurut
beberapa penulis, proses konseling dibagi menjadi tiga bagian yaitu proses
awal, tengan dan akhir. Konseling ada dua yaitu kelompok dan individu.
Konseling adalah seluruh upaya bantuan yang diberikan konselor kepada konseli supaya dia memperoleh konsep diri
dan kepercayaan diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dalam memperbaiki
tingkah lakunya pada masa yang akan datang. Dalam pembentukan konsep kepribadian yang sewajarnya mengenai : dirinya sendiri,
orang lain, pendapat orang lain tentang dirinya, tujuan-tujuan yang hendak
dicapai, dan kepercayaan diri.
Tujuan
konseling dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus:
- Tujuan umum: Tujuan
layanan konseling adalah terentaskannya masalah yang dialami klien. Upaya
pengentasan masalah klien ini dapat berupa mengurangi intensitasnya atas
masalah tersebut, mengurangi itensitas hambatan dan/atau kerugian yang
disebabkan masalah tersebut, dan menghilangkan atau meniadakan masalah
yang dimaksud. Dengan layanan konseling ini beban klien diringankan,
kemampuan klien ditingkatkan dan potensi klien dikembangkan.
- Tujuan
khusus: Klien memahami seluk-beluk masalah yang dialami secara mendalam
dan komprehensif, serta positif dan dinamis. Pemahaman yang dimaksud
mengarah kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi
terentaskannya secara spesifik masalah yang dihadapi klien. Pengembangan
dan pemeliharaan potensi klien dan berbagai unsur positif yang ada pada
dirinya merupakan latar belakang pemahaman dan pengentasan masalah kilen.
Pengembangan dan pemeliharaan potensi dan unsur-unsur positif yang ada
pada diri klien, diperkuat oleh terentaskannya masalah, dan berkembangnya
masalah yang lain.
Dalam sebuah proses konseling yang adekuat, berperan dua pihak yang
saling terkait, yaitu seorang konselor dan seorang klien yang menjalin
hubungan profesionalisme.
- Konselor:
Konselor adalah seorang ahil dalam bidang konseling, yang memiliki
kewenangan dan mandat secara profesional untuk melaksanakan pemberian
layanan konseling. Dalam proses konseling, konselor yang aktif
mengembangkan proses konseling melalui dioperasionalkan pendekatan, teknik
dan asas-asas konseling terhadap kilen. Dalam proses konseling, selain
media pembicaraan verbal, konselor juga dapat menggunakan media tulisan,
gambar, media elektronik, dan media pembelajaran lainnya, serta media
pengembangan tingkah laku. Semua itu diupayakan konselor dengan cara-cara
yang cermat dan tepat, demi terentaskannya masalah yang dihadapi klien.
- Kilen:
Klien adalah seorang individu yang sedang mengalami masalah, atau
setidak-tidaknya sedang mengalami sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada
orang lain. Klien menanggung semacam beban, uneg-uneg, atau mengalami
suatu kekurangan yang ingin diisi; atau ada suatu yang ingin dan/atau
perlu dikembangkan pada dirinya. Semuanya agar dia mendapatkan suasana
pikiran dan/atau perasaan yang Iebih ringan, memperoleh nilai tambah,
hidup lebih berarti, dan hal-hal positif lain nya selama menjalani hidup
seharihan dalam rangka kehidupan dirinya secara menyeluruh.
Konseling kelompok merupakan bentuk khusus dari layanan konseling,
yaitu wawancara konseling antara konselor profesional dengan beberapa orang
sekaligus yang tergabung dalam suatu kelompok kecil. Konseling kelompok sebagai
pelayanan bimbingan yang khas ialah; syarat dari konselor dan konseli sebalum
melakukan proses konseling, proses
konseling dalam kelompok, dan penerapan teori konseling serta pendekatan
konseling kelompok.
Konseling Menurut
Prayitno (2004), layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan
konseling perorangan yang dilaksanakan didalam suasana kelompok. Disana ada
konselor dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya minimal dua
orang). Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama
seperti dalam konseling perorangan yaitu hangat, permisif, terbuka dan penuh
keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien,
penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu
dengan menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
Menurut Prayitno (2004), tujuan umum konseling kelompok adalah mengembangkan
kepribadian siswa untuk mengembangkan kemampuan sosial, komunikasi, kepercayaan
diri, kepribadian, dan mampu memecahkan masalah yang berlandaskan ilmu dan
agama. Sedangkan tujuan khusus konseling kelompok, yaitu:
- Membahas topik yang mengandung masalah aktual, hangat, dan
menarik perhatian anggota kelompok.
- Terkembangnya perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap
terarah kepada tingkah laku dalam bersosialisasi/komunikasi.
- Terpecahkannya masalah individu yang bersangkutan dan
diperolehnya imbasan pemecahan masalah bagi individu peserta konseling
kelompok yang lain.
- Individu dapat mengatasi masalahnya dengan cepat dan tidak
menimbulkan emosi.
Layanan konseling
individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus antara peserta
didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung tatap muka (secara
perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang
diderita peserta didik (klien).
Tujuan Konseling Individu
Tujuan dari layanan konseling individu dibedakan menjadi
dua bagian, yaitu:
- Tujuan Umum
Tujuan
umum layanan konseling individu adalah terentasnya masalah yang dialami klien.
Apabila masalah klien itu dicirikan sebagai:
(a) sesuatu yang tidak disukai adanya,
(b) suatu yang ingin dihilangkan
(c) sesuatu yang dapat menghambat atau
menimbulkan kerugian
Maka
upaya pengentasan masalah klien melalui konseling individu akan mengurangi
intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang dimaksud atau meniadakan
keberadaan sesuatu yang dimaksud atau bisa jadi mengurangi intensitas hambatan
kerugian yang ditimbulkan oleh suatu yang dimaksudkan itu. Dengan layanan
konseling individu beban klien diringankan, kemampuan klien ditingkatkan,
potensi klien dikembangkan. Tujuan umum layanan konseling individu adalah pengentasan
masalah klien dengan demikian, fungsi pengentasan sangat dominan dalam layanan
ini.
- Tujuan Khusus
Dalam
kerangka tujuan umum itu, tujuan khusus layanan konseling individu dapat
dirinci dan secara langsung dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling yang
secara menyeluruh diembannya, antara lain:
- Melalui layanan konseling
individu klien memahami seluk-beluk masalah yang dialami secara mendalam
dan komprehensif, serta positif dan dinamis (fungsi pemahaman).
- Pemahaman itu mengarah
kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi
terentaskannya secara spesifik masalah yang dialami klien itu (fungsi
pengentasan). Pemahaman dan pengentasan masalah merupakan fokus yang
sangat khas, kongkrit dan langsung ditangani dalam layanan konseling
individu.
- Pengembangan dan
pemeliharaan potensi klien dan berbagai unsur positif yang ada pada
dirinya merupakan latar belakang pemahaman dan pengentasan masalah klien
dapat dicapai (fungsi pengembangan atau pemeliharaan). Bahkan, secara
tidak langsung, layanan konseling individu sering kali menjadikan
pengembangan atau pemeliharaan potensi dan unsur-unsur positif klien
sebagai fokus dan sasaran layanan.
- Pengembangan atau
pemeliharan potensi dan unsur-unsur positif yang ada pada diri klien,
diperkuat oleh terentaskannya masalah, akan merupakan kekuatan bagi
tercegah menjalarnya masalah yang sekarang sedang dialami itu, serta
(diharapkan) tercegah pula masalah-masalah baru yang mungkin timbul
(fungsi pencegahan).
- Apabila masalah yang
dialami klien menyangkut dilanggarnya hak-hak klien sehingga klien
teraniaya dalam kadar tertentu, layanan konseling individu dapat menangani
sasaran yang bersifat advokasi (fungsi advokasi). Melalui layanan
konseling individu klien memiliki kemampuan untuk membela diri sendiri
menghadapi keteraniayaan itu. Kelima sasaran yang merupakan wujud dari
keseluruhan fungsi konseling itu, secara langsung mengarah kepada
dipenuhinya kualitas untuk keperikehidupan sehari-hari yang
efektif (effective daily living).
Gabungan capaian tujuan umum dan tujuan khusus
yang dapat diraih melalui layanan konseling individu memperlihatkan betapa
layanan konseling individu dapat disebut sebagai “jantung hatinya” seluruh
pelayanan konseling. Dengan kemampuan layanan konseling individu, konselor
dapat menjangkau keseluruhan daerah pelayanan konseling.
Posisi tempat duduk dalam
konseling
Dalam proses konseling, konselor memciptakan lingkungan yang
menenangkan dan membangun rapport dengan konseling. Lingkungan ruangan
konseling memberikan kontribusi terhadap perasaan nyaman dan tenang konseli.
Furnitur dan penataannya haruslah membuat nyaman konselor dan klien. Pada
umumnya konselor tidak disarankan untuk duduk dibalik meja biasanya
dikonotasikan dengan figur otoritas seperti guru atau kepala sekolah. Terdapat
beberapa fariasi penataan tempat duduk dalam konseling:
a.
Konseling
individual:
1.
Ada satu
meja dan dua kursi saling berhadapan.
![]() |
3.
Tidak
ada penghalang apapun di antara kursi konseli dan kursi konselor.
![]() |
4.
Menggunakan
ujung meja untuk memberi kesempatan bagi konseli bila ingin berlindung dibalik
meja dan dapat bergerak maju bila sudah merasa nyaman (thompson, et.al.,2004,
p.36).
b.

Konseling kelompok:

1.

Berbentuk melingkar tanpa ada
meja.
2.
Berbentuk
huruf u, konselinya di depan leter u.
B.
Teori
Koseling
Teori konseling ialah suatu konseptualisasi atau kerangka acuan
berfikir tentang bagaiman suatu proses konseling berlangsung. Proses konseling
menunjuk pada rangkaian perubahan yang terjadi pada konseli yang berinteraksi
dengan seorang konselor selama jangka waktu tertentu.
Pada dasarnya layanan konseling bertujuan untuk Membantu konselor
dalam memprediksi, mengevaluasi dan meningkatkan hasil konseling, Menghubungkan
ide konseling dan mendorong memunculkan ide baru, Membantu menjelaskan apa yang
terjadi dalam hubungan konseling, Memberikan kerangka kerja untuk membuat observasi
ilmiah tentang konseling, Memberikan arti terhadap observasi-observasi yang
dibuat oleh konselor, menghasilkan setumpuk perubahan pada konseli dalam cara
berfikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku. Dalam mendapatkan perubahan
itu konselor pun ikut berperanan berkat aneka sifat kepribadiannya, corak
komunikasi antar pribadi yang dikelolanya, prosedur yang diikutinya, dan semua
teknik yang digunakannya.
Namun, konseptualisasi itu tidak bersifat spekulatif saja, tetapi
didasarkan pada fakta yang diobservasi selama sejumlah proses konseling. Pembahasan teori konseling dapat diatur
dengan berbagai cara yaitu:
1.
Urutan
kronologis
2.
Tekanan
yang diberikan pada hubungan antar pribadi antara konselor dan konseli,
khususnya apa peranan hubungan itu dalam proses konseling.
3.
Tempat
pada kontinum antara dua kutub, yaitu teori yang bercorak kognitif dengan
menekankan berfikir , dan teori yang bercorak afektif dengan menekankan berperasaan.
4.
Fokus
perhatian pada salah satu aspek dari kepribadian seseorang.
Menurut
Hansen, Stevic dan Warner (dalam Gantina Komalasari, dkk, 2011), mengatakan
bahwa teori itu penting karena untuk:
· Memfokuskan pada data yang relevan dan
menunjukkan apa yang harus dilihat.
· Membantu mengevaluasi pendekatan-pendekatan yang
lama dengan yang baru.
· Membantu memodifikasi perilaku konseli yang
afektif.
· Menuntun operasional untuk bekerja dan membantu
mengevaluasi perkembangan konseli sendiri sebagai profesional.
· Membantu memeriksa hubungan-hubungan yang mungkin
terlupakan bila tidak dilihat berdasar teori.
Macam-macam
teori konseling:
1.
Teori
Behavior, merupakan pendekatan yang didasarkan pada
perilaku/tingkah laku organisme.
Teori
ini berasal dari istilah bahasa inggris “behavioral counseling” yang untuk
pertama kali digunakan oleh John D. Krumboltz (1964), untuk menggaris bawahi
bahwa konseling diharapkan menghasilkan perubahan yang nyata dalam perilaku
konseling. Perubahan dalam perilaku itu harus diusahakan melalui suatu proses
belajar atau belajar kembali, yang berlangsung selama proses konseling. Ada 2
macam teori behavior:
a.
Reality
Therapy, dikembangkan oleh William Glasser. Yang dimaksud dengan istilah
reality ialah suatu standar atau patokan objektif yang menjadi kenyataan atau
realitas yang harus diterima. Realitas atau kenyataan itu dapat berwujud suatu
realitas praktis, realitas sosial, atau realitas moral.
b.
Multimodal
Counseling, ini sulit diganti dengan istilah bahasa Indonesia yang sesuai
pendekatan konseling ini memadukan berbagai unsur dari beberapa pendekatan yang
tersedia, sehingga terciptalah sistematika yang baru. Pendekatan ini berakar
dalam teori behavioristik, tetapi sekaligus mencangkup banyak unsur lain yang
saling berkaitan dalam lingkup sejarah perkembangan individ, proses belajar dan
hubungan antar pribadi.
2.
Teori
Client-Centered Counseling, untuk memandirikan klien agar tidak tergantung pada
konselor.
Corak
konseling ini disebut “konseling nondirektif” untuk membedakannya dari corak
konseling yang mengandung banyak pengarahan dan kontrol terhadap proses
konseling dipihak konselor. Kemudian mulai digunakan nama “Client-Centered
Counseling” dengan maksud individualitas konseling setara dengan individualitas
konselor, sehingga dapat dihindari kesan bahwa konseli menggantungkan diri pada
konselor.
3.
Teori
Rational-Emotive Therapy, teori ini menekankan kebersamaan dan interaksi antara
berpikir dengan akal sehat, berperasaan, dan berperilaku, serta sekaligus
menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat
menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.
Tujuan Rational Emotive
Behaviour Therapy
Tujuan rational emotive
behavior therapy menurut Ellis, membantu klien untuk memperoleh filsafat
hidup yang lebih realistik" yang berarti menunjukkan kepada klien bahwa
verbalisasi-verbalisasi diri mereka telah dan
masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh
mereka.12Sedangkn Tujuan dari Rational Emotive Behavior Therapya
menurut Mohammad Surya sebagai berikut:
a.
Memperbaiki
dan mengubah segala perilaku dan pola fikir yang irasional dan tidak logis menjadi rasional
dan lebih logis agar klien dapat mengembangkan
dirinya.
b.
Menghilangkan
gangguan emosional yang merusak.
c.
Untuk
membangun Self Interest, Self Direction, Tolerance, Acceptance of Uncertainty, Fleksibel,
Commitment, Scientific Thinking, Risk Taking, dan Self Acceptance Klien.
4.
Psikoanalisis,
Konseptualisasi Freud dan implementasi psikoanalisi adalah dasar
dikembangkannya teori-teori lain, baik dengan memodifikasi sebagaian dari
pendekatan ini maupun sebagai reaksi dari pendekatan ini. Freud memandang sifat
manusia sebagai suatu yang dinamis dengan trensformasi dan pertukaran energi
didalam kepribadiannya (Hall, 1954).
Tujuan
dari teori ini adalah mengarahkan manusia ke dalam kesadaran penuh akibat
tekanan yang dialaminya secara tidak sadar. Manusia mempunyai pikiran sadar
(berhubungan dengan kesadaran terhadap dunia luar), pikiran pra-sadar (yang
berisi kenangan-kenangan akan pengalaman yang tersembunyi atau terlupakan yang
masih diingat), dan pikiran bawah sadar (berisi naluri, kekuatan yang
terpendam). Menurut Freud kepribadian ada tiga bagian:
·
Id
Yaitu aspek biologi yang merupakan sistem kepribadian yang
asli. Idmempunyai energi yang dapat mengaktifkan Ego dan Super Ego
dan energi id dapat meningkat oleh perasaan dari dalam maupun
luar karena pada dasarnya Id setiap manusia berisi
tentang hal yang di bawa sejak lahir seperti instin.
·
Ego
Yaitu aspek psikologi yang timbul karena kebutuhan
organisme untuk berhubungan dengan dunia nyata. yang berprinsip kenyataan dan
melanjutkan proses primer dengan proses sekunder. Proses sekunder disini adalah
usaha untuk menghasilkan sesuatu yang nyata yang dimuali dengan merumuskan
suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan.
- Super Ego
Yaitu Aspek sosiologis yang mencerminkan nilai – nilai
tradisional serta cita – cita yang ada di dalam kepribadian setiap individu.
Kelebihan dan kekurangan konseling psikoanalisa
Kelebihan
konseling psikoanalisa antara lain :
- Pentingnya sikap non –moral
pada terapi
- Adanya motivasi yang
tidak selamanya di sadari.
- Teori kepribadian dan
teknik psikoanalisa yang saling berhubungan.
- Pentingnya masa lalu
pada masa kanak-kanak dalam perkembangan kepribadian.
- Model wawancara
sebagai alat terapi.
- Teori dan teknik
saling berhubungan satu sama lain.
Kekurangan
konseling psikoanalisa antara lain :
- Terlalu meminimalkan
rasionalitas.
- Data penelitian
yang bersifat empiris kurang banyak mendukung sistem
psikoanalisa.
- Bahwa perilaku
ditentukan oleh energi psikis ( sesuatu yang meragukan ).
- Penyembuhan dalam
psikoanalisa terlalu bersifat rasional dalam pendekatan.
- Pandangan yang
terlalu deterministik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan.
- Terlalu memnekankan
pengalaman pada masa kanak-kanak.
5.
Teori
humanistik, Teori humanistik merupakan teori yang berpusat pada keunikan
manusia (Abraham Maslow (1908-1970)). Diciptakannya teori ini adalah
ketidakpuasan terhadap teori sebelumnya yaitu behavioristik dan psikoanalisis. Maslow berpendapat bahwa manusia itu
mengendalikan dirinya sendiri secara sadar.
6.
Teori
Gestalt, ini konselor membantu konseli untuk menghayati diri sendiri dalam
situasi kehidupannya yang sekarang dan menyadari halangan yang diciptakan
sendiri untuk merasakan serta meresapi makna dari konstelasi pengalaman hidup.
Konseli harus mengusahakan keterpaduan dan integrasi dari perpikir,
berperasaan, dan berperilaku, yang mencangkup semua pengalamannya yang nyata
pada saat sekarang.
Pandangan tentang
Manusia
Pendekatan konseling
ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu
keseluruhan. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi
pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya. Setiap individu memiliki
kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki dorongan untuk
mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas
atau keutuhan pribadi.
Tujuan
Konseling
Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu konseli agar berani
mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi.
Tujuan ini mengandung makna bahwa konseli haruslah dapat berubah dari
ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat
berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.
7.
Teori
Kognitif, George Miller (1920) dijuluki sebagai the founder psikologi
kognitif. Teori ini muncul sebagai rasa tidak setuju dengan teori behavior yang
dilihat dari hasil penelitian tentang teori informasi dan menstimulasi jiwa
manusia dengan komputer. Oleh karena itu dia mendirikan teori kognitif sebagai
tanda kembalinya psikologi yang seharusnya berkaitan dengan masalah mental atau
perilaku. Ada 2 macam teori kognitif:
a.
Analisis
Transaksional, analisis ini menekankan pada pola interaksi antara orang-orang
baik yang verbal maupun yang non verbal. Teori ini dapat diterapkan dalam
konseling individual, tetapi dianggap paling bermanfaat dalam konseling
kelompok, karena konselor dapat kesempatan untuk langsung mengamati pola-pola
interaksi antara seluruh anggota kelompok.
b.
Sistematika
Carkhuff, merupakan pola pendekatan tersediri yang dikembangkan oleh Roebert R.
Carkhuff dan diuraikan serta dipertanggung jawabkan dalam banyak
publikasi. Sistematika ini dapat
dipandang sebagai suatu pola elektik dalam konseling karena merupakan perpaduan
dari berbagai unsur yang diambil dari beberapa konsepsi serta pendekatan
terhadap konseling, namun berbeda dengan konseling elektik yang dikembangkan
oleh Frederick Thorne. Jadi kedua pola pendekatan harus dipadukan dalam suatu
pendekatan sistematis yang menjamin efisiensi dan efektifitas dari proses
konseling serta menghasilkan perubahan positif yang nyata dalam perilaku
konseling. Ada tiga fase yang harus dijalani konseling ialah eksplorasi,
pemahaman diri, dan bertindak.
Reality Therapy, dikembangkan
oleh William Glasser. Yang dimaksud dengan istilah reality ialah suatu standar
atau patokan objektif yang menjadi kenyataan atau realitas yang harus diterima.
Realitas atau kenyataan itu dapat berwujud suatu realitas praktis, realitas
sosial, atau realitas moral.
c.
Multimodal
Counseling, ini sulit diganti dengan istilah bahasa Indonesia yang sesuai
pendekatan konseling ini memadukan berbagai unsur dari beberapa pendekatan yang
tersedia, sehingga terciptalah sistematika yang baru. Pendekatan ini berakar
dalam teori behavioristik, tetapi sekaligus mencangkup banyak unsur lain yang
saling berkaitan dalam lingkup sejarah perkembangan individ, proses belajar dan
hubungan antar pribadi.
C.
Model
Bimbingan dan Konseling
Model adalah bentuk pendekatan
yang digunakan untuk melakukan konseling. Pendekatan diambil dari hasil
penemuan para tokoh penemu teori. Model bimbingan dalam hal ini bisa diartikan
sebagai kerangka berfikir tentang apa itu bimbingan dan hal ini dijadikan
pedoman dalam praktik pelayanan bimbingan. Pemikiran-pemikiran tentang apa itu
bimbingan dikembangkan oleh sejumlah tokoh, antara lain:
1.
Frank
parsons (1908-1909)
Pada masa itu banyak orang muda mengalami
masalah dalam karier. Situasi itu membuat persons mengembangkan pandangan bahwa
individu dan masyarakat mendapat keuntungan jika terdapat kecocokan antara ciri
kepribadian dan tuntutan pekerjaan. Baik individu maupun masyarakat akan
mendapat keuntungan kalau terdapat kecocokan antara ciri-ciri kepribadian
seseorang dan seluruh tuntutan bidang pekerjaan yang dipegang oleh orang tua.
Ada tiga faktor: 1.analisis diri, 2.analisis pekerjaan, 3.perbandingan hasil
dan analisis, menghubungkan hasil analisis diri dan pekerjaan.
2.
John M.
Brewer (sekitar tahun 1932)
Memandang
tugas pendidikan adalah mempersiapkan siswa-siswi memasuki berbagai bidang
kehidupan, memetik makna hidup, mendapatkan kepuasan (kebahagiaan) hidup.
Pendidikan dan bimbingan dianggap tidak jauh berbeda, keduanya adalah bantuan
bagi orang muda untuk berkembang. Dalam hal ini ada dua hal yaitu; 1.fokus
pelayanan bimbingan adalah pemberian informasi dan konseling, 2.ragam bimbingan
yang dilakukan berdasarkan bimbingan ini adalah bimbingan belajar, pelayanan
untuk memelihara kesehatan mental, dan bimbingan pengisian waktu luang. Bentuk
bimbinganya seperti ketika melaksanakan pengajaran dalam bidang studi.
3.
Julius
Menacher
Tokoh
ini mengembangkan paham Activist Guidance, yaitu bimbingan harus menanggulangi
permasalahan dengan mengadakan perubahan pada lingkungan hidup. Model bimbingan
ini muncul dilatarbelakangi oleh munculnya masalah dikelompok masyarakat bahwa
yang bersumber pada keluarga dan komunitas asal peserta didik. Fokus pelayanan
BK adalah mengadakan perubahan pada lingkungan hidup siswa, memanipulasi
lingkungn agar kondusif untuk perkembangan siswa.
Model Konseling :
Ada beberapa model pendekatan
konseling, namun 3 komponen utamanya yaitu :
1.
Behavior,
berpusat pada perilaku yang dapat diamati, yang berkaitan dengan pembentukan
perilaku dan kebiasaan. Pendekatan behavioral didasari oleh hasil eksperimen
yang melakuakn investigasi tentang prinsip-prinsip tingkah laku manusia.
Eksperimen-eksperimen tersebut menghasilkan tehnik-tehnik spesifik dalam
pendekatan ini yang dipelopori oleh beberapa tokoh behaviorisme yang
terpercaya. Tokoh behaviorisme yang melahirkan tehnik-tehnik konseling antara
lain : skinner, watson, pavlov, dan bandura.
Pendekatan tingkah laku atau behavioral
menekankan pada dimensi kognitif indivu dan menawarkan berbagai metode yang
berorientasi pada tindakan (action-oriented) untuk membantu mengambil langkah
yang jelas dalam merubah tingkahlaku. Istilah modifikasi perilaku ( behavior
modification) dan pendekatan (behavior approach) banyak digunakan secara
bersamaan dengan makna yang sama. Konseling behavioral memiliki asumsi dasar
bahwa setiap tingkah laku dapat dipelajari, tingkah laku lama dapat diganti
dengan tingkah laku baru, dan manusia memiki potensi untuk berperilaku baik
atau buruk, tepat atau salah. Selain itu, manusia dipandang sebagai individu
yang mampu melakukan refleksi atas tingkahlakunya sendiri, mengatur serta dapat
mengontrol perilakunya, dan dapat belajar tingkahlaku baru atau dapat
mempengaruhi perilaku orang lain (Walker & shea,1998,p.36).
Teknik-Teknik Konseling
Teknik konseling behavioral terdiri dari dua jenis, yaitu teknik untuk
meningkatkan tingkahlaku dan menurunkan tingkahlaku. Teknik untuk meningkatkan
tingkahlaku antara lain : penguatan
positif, token economi, pembentukan tingkahlaku (shaping ), pembuatan kontrak
(contingency contagcy-ting), sedangkan tehnik konseling untuk menurunkan
tingkahlaku adalah : penghapusan (extinction),time out, pembanjiran (flooding),
penjenuhan (satia-tion), hukuman (punishment), terapi aversi (aversive theraphy), dan disentisisasi
sistematis.
·
Penguatan
Positif ( Positive Reinforcement )
Penguatan positif (positive reinforcement) adalah membereikan
penguatan yang menyenangkan setela tingkah laku yang diinginkan ditampilkan dan
bertujuan agar tingkahlaku yang diinginkan cenderung akan diulang, meningkat
dan menetap dimasa yang akan datang (Walker & shea,1984). Reinforcement
positif, yaitu peristiwa atau sesuatu yang membuat tingkahlaku yang dikehendaki
berpeluang diulang karena bersifat disenangi. Dalam memahami penguatan positif,
perlu dibedakan dengan penguatan negatif ( Negative reinforcement) yaitu
menghilangkan aversiv stimulus ( negative reinforcement) yang biasa dilakukan
agar tinglaku yang tidak diinginkan berkurang dan tingkahlaku yang diinginkan
meningkat. Reinforcement negatif, yaitu peristiwa atau sesuatu yang membuat
tinglaku yang dikehendaki kecil peluang untuk diulang. Reinforcement dapat bersifat tidak
menyenangkan atau tidak memberi dampak pada perubahan tingkahlaku tujuan
(sukaji,1983,p.12).
·
Kartu
berharga ( Token economy)
Kartu berharga ( token economy) meruapakan tehnik konseling behavior
yang didasarkan prinsip operant conditioning skinner yang termasuk didalamnya
ada penguatan. Token economy adalah strategi menghindari pemberian reinforcement secara langsung, token merupakan penghargaan
yang dapat ditukar dengan berbagai barang yang diinginkan konseli. Kartu
berharga ( token economy) dapat diterapkan di berbagai setting dan populasi
seperti dalam setting individual, kelompok dan kelas, juga pada berbagai populasi mulai dari
anak-anak hingga orang dewasa ( corry,1986,p.185 )
·
Pembentukan
(shapping)
Shaping adalah membentuk tingkah laku baru yang sebelumnya belum
ditampilkan dengan memberikan reinforcement secara sistematik dan langsung
setiap kali tingkah laku ditampilkan.
Pembuatan
kontrak (contingency contracting)
Pembuatan kontrak adalah mengatur kondisi sehingga konseli menampilkan
tingkahlaku yang diinginkan berdasar kontrak antara konseli dan konselor.
Prinsip
dasar kontrak
-
Kontrak
disertai dengan penguatan.
-
Reinforcement
diberikan dengan segera.
-
Kontrak
harus dinegosiasiasikan secara terbuka dan bebas serta disepakati antara
konseli dan konselor.
-
Kontrak
harus fair.
-
Kontrak
harus jelas (target tingkahlaku, frekuensi, lamanya kontrak).
-
Kontrak
dilaksanakan secara terintegrasi dan program sekolah.
·
Penokohan
(modeling)
Modeling berakar dari teori albert Bandura dengan teori belajar
sosial. Penggunakan tehnik modeling(penokohan) telah dimulai pada akhir tahun
50-an, meliputi tokoh nyata, tokoh melalui film, tokoh imajinasi(imajiner).
Penokohan istilah yang menunjukan terjadinya proses belajar melalui
pengamatan(opservational learning) terhadap oranglain dan perubahan terjadi
melalui peniruan.
·
Pengelolaan
diri (self management)
Pengelolaan diri (self management) adalah prosedur dimana individu
mengatur perilakunya sendiri. Pada tehnik ini individu terlihat pada beberapa
atau keseluruan komponen dasar yaitu : menetukan perilaku sasaran, memonitor
perilaku tersebut, memilih prosedur yang akan diterapkan, melaksanakan prosedur
tersebut, dan mengevaluasi efektivitas prosedur tersebut (sukadji,1983,p.96).
Tehnik
konseling untuk menurunkan tingkah laku
·
Penghapusan
(Extinction)
Penghapusan (Extinction) adalah menghentikan reinforcement pada
tingkahlaku yang sebelumnya diberi reinforcement.
·
Pembanjiran
(flooding)
Pembanjiran (flooding) merupakan tehnik modifikasi perilaku
berdasarkan prinsip yang dikemukakan oleh B.F.Skinner. pembanjiran adalah
membanjiri konseli dengan situasi atau penyebab kecemasan atau tingkahlaku
tidak dikehendaki, sampai konseli sadar bahwa yang dicemaskan tidak terjadi.
·
Penjenuhan
(satiation)
Penjenuhan (satiation) adalah varian flooding untuk self control.
·
Hukuman
( punishment)
Hukuman atau punishment meruapakan intervensi operant-conditioning
yang digunakan konselor untuk mengurangi tingkahlaku yang tidak diinginkan.
·
Time out
Merupakan teknik menyisihkan peluang individu untuk mendapatkan
penguatan positif.
·
Disensititasi
sistematis
Disensititasi sistematis digunakan untuk menghapus rasa cemas dan
tinglaku menghindar. Disensititasi sistematis dilakukan dengan menerapkan
pengkondisian klasik yaitu dengan melemahkan kekuatan setimulus penghasil
kecemasan, gejala kecemasan bisa dikendalikan dan dihapus melalui penggantian
stimulus. Melibatkan teknik relaksasi. Melatih konseli untuk santai dan
mengasosiakan keadaain santai dengan pengalaman pembangkit kecemasan yang
dibayangkan atau divisualisasikan.
2.
Humanistik, pendekatan berpusat pada manusia itu sendiri
dengan pengetahuan yang dimiliki secara sadar (person centered theraphy).
Sejarahnya Pendekatan person centered dikembangkan oleh Dr.Carl Rogers
(1902-1987) pada tahum 1940-an. Pada wal perkembangannya carl roger menanamkan
non-directive counseling sebagai reaksi kontra terhadap pendekatan
psikoanalisis yang bersifat direktif dan tradisional. Pada tahun 1951 Roger
mengganti nama pendekatan non-direktif menjadi client centered.
Pendekatan client centered berasumsi bahwa manusia yang mencari
bantuan psikologis diperlakukan sebagai konseli yang bertanggung jawab yang
memiliki kekuatan untuk mengarahkan dirinya. Setelah itu, rogers mengembangkan
aplikasi pendekatan ini pada area yang lebih luas dan menjangkau populasi yang
lebih berfariasi seperti konseling pasangan dan keluarga, kelompok minoritas,
kelompok antara dan antar kultur serta dalam hubungan
internasional(Rogers,1970,1972,1977 dalam Corey, 1986,p.99).
Tekniknya,
Bagi terapis yang menggunakan pendekatan berpusat pada orang, kualitas hubungan
konseling jauh lebih penting dari pada teknik yang digunakan (Glauser &
Bozarth, 2001). Rogers (1957) percaya bahwa ada tiga kondisi yang penting dan
perlu (inti) pada konseling :
1)
Empati
2)
Perhatian
positif tanpa pamrih (penerimaan, penghargaan),
3)
Kecocokan
(ketulusan, keterbukaan, autentik, transparansi).
Teknik-Teknik Konseling
Corey (1995) mengatakan bahwa konselor harus memperlihatkan berbagai
ketrampilan internasional yang dibutuhkan dalam proses konseling.
Ketrampilan-ketrampilan tersebut antara lain :
·
Mendengar
aktif (Active Listening)
Yaitu memperhatikan perkataan
konseling, sensitif terhadap kata atau kalimat yang diucapkan, intonasi dan
bahasa tubuh konseling(p.63).
·
Mengulang
kembali (Restating)
Yaitu mengulang perkataan konseli dengan kalimatyang berbeda.
·
Memperjelas(clarifying)
Adalah merespon pernyataan atau pearyataan konseli
yang membingungkan dan tidakjelas,
dengan memfokuskan isu-isu utama dan membantu individu tersebut untuk menemukan
dan memperjelas perasaan-perasaannya yang bertolak belakang
·
Menyimpulkan(summarizing)
Merupakan ketrampilan konselor untuk menganalisis
seluruh elemen-elemen penting yang muncul dalam seluruh atau bagian sesi
konseling.
·
Bertanya(
Question)
Teknik bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam
dari konseli.
·
Mengintrepertasi(interpreting)
Yaitu kemampuan konselor dalam menginterpresentasikan pikiran,
perasaan, atau tingkah laku konseli yang
bertujuan untuk memberikan prespektif
alternative dan baru.
·
Mengkonfrontasi
(confronting)
Merupakan cara yang kuat untuk menantang konseli untukmelihat
dirinya secara jujur .
·
Mereflesikan
perasaan ( Reflecting feelings)
Kemampuan untuk merespon terhadap perkataan konseli.
·
Memberikan
dukungan( supporting)
Upaya untuk memberikan penguatan kepada konseli.
·
Berempati
(Empathizing)
Inti dari ketrampilan empati adalah kemampuan pemimpin
untuk sensitive terhadap hal-hal subjektif konseli.
·
Memfasilitasi
(facilitating)
Teknik ini bertujuan memberdayakan koseli untuk mencapai
tujuan-tujuannya.
·
Memulai
(initiating)
Ketrampilan untuk memulai kegiatan dalam proses konseling.
·
Menentukan
tujuan(setting Goals)
Konselor harus dapat menstimulasi klien menentukan dan
memperjelas tujuan-tujuan yang dicapai dalam konseling.
·
Mengevaluasi(
Evaluating)
Evaluasi merupakan kegiatan yang berkelanjutan.
·
Memberikan
umpang balik ( giving feedback)
Merupakan keterampilan konselor untuk memberikan umpan
balik yang spesifik dan deskriftif, dan jujur atas dasar observasi dan reaksi terhadap
tingkahlaku konseli.
·
Menjaga
(protection)
Upaya konselor untuk menjaga klien menyadari kemungkinannya
resiko-resiko psikologis dan fisik yang tidak perlu.
·
Mendekatkan
diri (Disclosing self)
Membuat konseli jauh lebih terbuka.
·
Mencontoh
model (modeling)
Konseli belajar dari mengobservasi tingkahl aku konselor.
·
Mengakhiri
( terminating)
Keterampilan
konselor untuk menentukan waktu dan cara mengakhiri kegiatan konseling.
3.
Psikoanalisis,
berpusat pada penggalian informasi sebanyak-banyaknya tentang masa lalu manusia
dan mengarah pada kepribadian. Pendekatan psikoanalisis dalam konseling
merepresentasikan tradisi utama dalam konseling dan psikoteraphy kontemporer.
Konseling psikoanalisis memberikan perhatian terhadap kemampuan konselor untuk
mengguanakan apa yang terjadi, dalam hubungan antar konseli dan konselor yang
bersifat segera dan terbuka dalam rangka mengeksplorasi tipe perasaan dan
dilema hubungan yang mengakibatkan kesulitan bagi konseli dalam kehidupannya
sehari-hari ( McLeod,2006,p. 90 ). Tentang Pendekatan psikoanalisis merupakan
pendekatan yang banyak mempengaruhi timbulnya pendekatan-pendekan lain dalam
konseling.
Sejarah pendekatan psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud
(1856-1939). Sigmund Freud merupakan orang jerman keturunan Yahudi lahir 6 mei
1856 di Freiberg dan meninggal di London 23 september 1939. Psikoanalisis mulai
diperkenalkan oleh freud pada buku pertamanya yaitu penafsiran atas mimpi
(Dream interpretation) pada tahun 1900.
Freud menjelaskan psikoanalisis dalam arti yang berbeda-beda. Salah satu
penjelasan yang terkenal terdapat dalam sebuah artikel yang ia tulis pada tahun
1923. Pada artikel tersebut membedakan tiga arti psikoanalisis, yaitu :
·
Istila
psikoanalisis dipakai untuk menunjukan suatu metode penelitian terhadap
proses-proses psikis( misalnya Mimpi) sebelumya hampir tidak terjangkau oleh
penelitian ilmiah.
·
Istilah
ini juga menunjukan suatu teknik untuk
mengobati ganguan-gangguan psikis yang dialami oleh pasien neurosis. Teknik
pengobatan ini bertumpu pada metode penelitian tadi.
·
Istilah
yang sama dipakai pula dalam arti luas lagi, untuk menujukan seluruh
pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan tehnik tersebut
diatas.dalam arti terakhir kata psikoanalisis mengacu pada suatu ilmu yang
dimata Freud merupakan penemuan yang betul-betul baru (Bertens,2006,p.4 ).
Teknik psikoanalisis
paling sering diterapkan dalam lingkungan khusus, seperti kantor konselor atau
ruang wawancara di rumah sakit. Beberapa diantaranya yang paling sering
digunakan adalah asosiasi bebas,
analisis mimpi, analisis teansference, analisis resistensi, dan interperensi.
Meskipun masing-masing teknik akan diamati secara terpisah di sini, dalam
praktiknya saling terintegrasi.
Teknik-Teknik Konseling
Beberapa tehnik konseling dalam pendekatan psikoanalisis adalah untuk
membuka alam ketidaksadaran(unconsciousness), diantaranya :
·
Teknik
Analisis kepribadian ( Case Histories)
Pendekatan dinamika penyembuhan gangguan kepribadian dilakukan dengan
melihat dinamika dari dorongan primitif( libido) terhadap ego bagaimana
superego menahan dorongan tersebut. Apakah Ego bisa mempertahankan keseimbangan
anatara dorongan Id dan Superego. Kemudian dicari penyebab mengapa ego tidak
dapat mempertahankan keseimbangan itu (Thompson,et.al.,2004,p.92 ). Pendekatan
sejarah kasus ( case historis) bertujuan untuk melihat fase-fase perkembangan
dorongan seksual apakah berjalan wajar, apakah ada hambatan dan pada fase mana
mulai terjadi hambatan.
·
Hipnotis
( Hipnosis)
Hipnosis bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami faktor
ketidaksadaran ( unconsciousness) yang menjadi penyebab masalah. Konseli diajak
melakukan kataris dengan memverbalisasikan
konflik-konflik yang telah ditekan ke alam ketidaksadaran. Akan tetapi
hipnotis telah banyak ditinggalkan karena tidak semua orang dapat diajak kealam
ketidaksadaran dan dapat menemukan konflik-konflik dilevel ketidaksadaran (
unconsiousness) . selain itu, hasil tidak bertahan lama, karena setelah sadar
penyebab masih tetap ada dan mengganggu . (Thompson,et,al.,2004,p.93).
·
Asosiasi
bebas ( free association)
Asosiasi bebas bertujuan untuk meninggalkan cara berpikir yang biasa
menyensor pikiran. Hal ini dilakukan dengan meminta konseli berbaring rileks,
kemudian diminta untuk mengasosiakan kata-kata yang diucapkan sendiri atau oleh
konselor, dengan kata yang pertama kali muncul dalam ingatannya tanpa
memperhitungkan baik buruk, benar-salah, atau meskipun kelihatan aneh,
irasional, menggelikan atau menyakitkan. Dengan cara ini Id diminta bicara,
sedangkan Ego dan superego tinggal diam(Thompson,et,al.,2004,p.96)
·
Analisis
Resistensi ( analisis of resistance )
Analisis resistensi adalah melakukan analaisis terhadap sikap
resistensi konseli resistensi dapat terbentuk tingkah laku yang tidak memiliki
komitmen pada pertemuan konseling, tidak menepati janji, menolak mengingat
mimpi, menghalangi pikiran saat asosiasi bebas, dan bentuk-bentuk lainnya. Analisis
tentang kondisi ini akan membantu konseli berhasil dalam terapi
(Thompson,et,al.,2004,p.96).
·
Analisis
transferensi ( analisis of transference )
Transference terjadi ketika konseli memandang konselor seperti orang
lain. Pada proses konseling, terkadang
konseli mentransfer perasaan tentang orang yang penting baginya pada masalalu
kepada konselor. Dalam analisis transferensi, konselor mendorong transferensi
ini dan mengintrerprestasikan perasaan-perasaan positif dan negatif yang
diekspresikan. Pelepasan ini bersifat terapeutis, katarsis emosional. Tetapi
nilai sesungguhnya dari analisis, konselor tentang transferensi yang terjadi
(Thompson,et,al.,2004,p.95).
·
Intrepretasi
(interpretation)
Interpretasi merupakan pengembang dari tehnik asosiasi bebas. Terdapat
tiga aspek yang diinterprestasi, yaitu : mimpi ( drams) , parapraxia dan rumor.
Pada saat melakukan interpretasi, konselor membantu konseli memahami
peristiwadari masalalu dan sekarang. Interpretasi menyangkut penjelasan dan
analisisberbagai pikiran, perasaan dan tindakan konseli. Konselor harus memilih
waktu yang tepat untuk melakukan ini, sehingga konseli siap menerima dan
mendapat insight (Thompson,et,al.,2004,p.94). pada analisis mimpi konseli
secara sadar sepenuhnya diajak untuk mengeksplorasi ketidaksadaran dengan
menganalisis mimpinya. Analisis harus menyadari mimpinya . analisis harus
menyadari arti yang nyata/kelihat (manifest content) dan arti tersembunyi yang
sesungguhnya (latent conten).
Teknik Konseling
Teknik
konseling merupakan metode atau cara yang ditempuh oleh konselor untuk
melakukan pendekatan kepada konseli. Teknik konseling dibagi menjadi 3:
a.
Pendekatan
langsung (direktif), Konselor sebagai penolong aktif, Pendekatan berpusat pada
konselor konselor
lebih banyak memberikan penjelasan dan menuangkan ilmunya kepada konseli untuk
memecahkan masalah. Tugas konselor mengumpulkan data sebanyak mungkin,
menganalisis dan memberikan pendapat serta solusi dari masalah yang dihadapi.
Tujuan dari pendekatan langsung adalah untuk mengubah pola pikir
konseli yang bersifat emosional menjadi rasional. Teknik ini memiliki
langkah-langkah umum sebagai berikut:
o Analisis data tentang klien.
o Pensintesisan data untuk mengenali
kekuatan-kekuatan dan kelemahan klien.
o Diagnosis masalah.
o Prediksi tentang perkembangan masalah
selanjutnya.
o Pemecahan masalah.
o Tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil
konseling.
b.
Pendekatan
tidak langsung (non direktif), Konselor sebagai penolong pasif, Pendekatan
berpusat pada konseli. Konselor lebih banyak mendengarkan, dan memancing
konseli untuk menceritakan masalahnya serta mengarahkan konseli untuk menemukan
masalah dan penyelesaiannya. Tanggung jawab sepenuhnya dimiliki oleh seorang
konseli.
konseli
sebenarnya dapat memecahkan masalahnya sendiri, tetapi karena suatu hambatan maka
yang terjadi kemampuannya itu tidak dapat tersalurkan dengan baik. Sehingga membutuhkan bantuan dari seseorang untuk
dapat menyiapkan suasana supaya potensi atau kemampuan yang dimiliki oleh
konseli dapat digunakan secara optimal.
Proses konseling, inisiatif dan pemecahan masalah sepenuhnya diletakkan di
pundak konseli sendiri. Peran
konselor sendiri hanya bertindak sebagai fasilitator membantu perkembangan dan
pertumbuhan konseli. Ciri-ciri dari pendekatan tidak langsung
ialah:
•
Konseli
ditolong untuk semakin mengenal diri sendiri.
•
Konseli
bebas mengekspresikan diri.
•
Konseli
membuat asal-usul yang berhubungan dengan pemecahan masalahnya sendiri.
•
Konseli
menerima, mengetahui, menjelaskan, mengulang pernyataan-pernyataan dari konseli
secara objektif.
c.
Pendekatan
ekletis, Gabungan dari directive dan
non-directive, Digunakan sesuai kebutuhan dan bersifat fleksibel.
Pendekatan
ekletis merupakan perpaduan dari teknik
directive dan non-directive. Teknik tersebut muncul agar konselor tidak
tampak kaku dalam menyelesaikan masalah konseli. Pendekatan ini bersifat
fleksibel yang penggunaannya disesuaikan dengan keadaan konseli dan masalah
yang dihadapi.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Konseling ialah bentuk bantuan yang diberikan secara profesional dari
seorang yang ahli kepada individu yang memerlukan bantuan. Ada dua dalam proses
konseling yaitu konseling individu dan konseling kelompok. Konseling individu
hanya satu orang sedangkan konseling kelompok terdiri lebih dari dua orang.
Teori konseling ialah suatu konseptualisasi atau kerangka acuan
berfikir tentang bagaiman suatu proses konseling berlangsung. Ada beberapa
teori Konseling ialah teori behavior, teori Client-Centered Counseling,Teori
Rational-Emotive, teori psikoanalisis, teori gestalt, teori humanistik, teori
kognitif.
Model adalah bentuk pendekatan
yang digunakan untuk melakukan konseling. Pendekatan diambil dari hasil
penemuan para tokoh penemu teori. Ada 3 pendekatan yaitu behavior, humanistik
dan psikoanalisis.
Teknik konseling merupakan metode atau cara yang ditempuh oleh
konselor utk melakukan pendekatan kepada konseli. Teknik-Teknik Konseling ada 3
yaitu teknik langsung, tidak langsung, dan ekletis.
DAFTAR PUSTAKA
•
Mappiare,
Andi. 1996. Pengantar Konseling dan Psikoterapi, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
•
Winkel
W.S, Hastuti Sri. 2004. Bimbingan dan
Konseling di Institusi Pendidikan, Yogyakarta: Media Abadi.
•
Komalasari,
Gantina; Wahyuni, Eka; Karsih. 2011. Teori dan Teknik Konseling,
Jakarta: PT Indeks.
•
Mashudi,
Farid. 2013, Psikologi Konseling. Yogjakarta: IRCiSoD.
•
Aqib
zainal; 2012, Ikhtisar Bimbingan dan
Konseliung di Sekolah, Bandung: Yrama Widya.
•
Hallen
A, 2002, bimbingan dan konseling,
Jakarta: Ciputat pars.
•
Gladding,
Samuel. 2012. Konseling,
Jakarta : PT Indeks Jakarta

