Reaksi Sosial
Disusun Oleh :
• Debhie Afriani Carerra (131221049)
• Daim Wardhati Mu’iffah (131221041)
•
Noviana Laraswati (131221039)
BIMBINGAN
KONSELING ISLAM KELAS III B
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) SURAKARTA
TAHUN
AJARAN 2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah
psikopat yang sejak 1952 diganti dengan Sosiopat dan dalam Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) II 1968 resmi dinamakan Sosiopat.
Hare menyamakannya dengan salah satu kelainan, yaitu Anti Social Personality
Disorder (Hare, Hart & Harpur, 1991). Pada umumnya mayoritas orang
menyebut psikopat sebagai sakit jiwa, karena istilah psikopat berasal dari
kata “psyche” yang berarti jiwa dan “pathos” yang berarti
penyakit,namun psikopat tidak dimaksudkan untuk kategori sakit kejiwaan secara
menyeluruh. Penderita psikopat biasanya juga seorang sosiopat, karena
perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.
Psikopat
adalah perilaku psikologis dimana pelaku terus menerus mencari gratifikasi
(pembenaran diri) atas tindakan2 keliru yang dilakukannya. Seorang psikopat
tidak memiliki kemampuan untuk mengenali dan belajar dari kesalahan. Namun dia
memiliki daya analisa yang tinggi dan seringkali tergolong orang yang sangat
cerdas.
Banyak psikolog berpendapat, salah
satu ciri awal seorang berpotensi menjadi psikopat adalah ketika dia memiliki
rasa cinta pada diri sendiri (narcissistic). Dalam tingkatan spektum patologi,
Narcissistic berada di peringkat terendah dari gejala kelainan jiwa . Jika
kecintaan pada diri sendiri berubah menjadi paranoid (takut ada orang lain yang
lebih cantik / tampan dari dirinya), maka orang itu berada pada spektrum tengah
yang disebut Malignant Narcissism. Dan dalam spektrum tersebut, psikopat berada
di peringkat paling atas dan disebut High-End Narcissism.
Menurut sosiolog tingkah laku sosiopatik adalah
tingkah laku yang berbeda dan menyimpang dari kebiasaan serta norma umum, yang
ada pada suatu tempat dan waktu tertentu yang ditolak sekalipun tingkah laku
tersebut di tempat dan waktu lain bisa diterima oleh masyarakat lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Seperti apa proses diferensiasi dan
sosialisasi terhadap individu sosiopatik ?
2. Seperti apa mobilitas terhadap
individu-individu sosiopatik ?
3. Seperi apa penyesuaian diri individu
marginal ?
4. Apa reaksi sosial terhadap individu
sosiopatik ?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui diferensiasi dan
sosialisasi terhadap individu sosiopatik.
2. Untuk mengetahui mobilitas terhadap
individu-individu sosiopatik.
3. Untuk memahami penyesuaian diri individu
marginal.
4. Untuk mengetahui bagaimana reaksi
sosial terhadap individu sosiopatik.
BAB II
Individu Sosiopatik
A. Proses
Diferensiasi dan Sosialisasi
Pribadi yang menyimpang dengan tingkah laku
menyimpang dari norma-norma umum itu merupakan produk dari proses diferensiasi,
individualisasi, dan sosialisasi.
v Proses diferensiasi
Ada
orang-orang yang secara individual memang berbeda dengan orang kebanyakan sejak lahirnya. Misalnya cacat
jasmani bawaan, atau memiliki wajah dan
tubuh yang mengerikan. Cacat seperti ini umumnya menimbulkan perasaan
inferior (rasa rendah diri) yang sangat dalam pada pribadi yang
bersangkutan, sehingga respons sosialnya berkembang menjadi tidak wajar.
Kondisi tersebut menjadi lebih parah apabila lingkungan sekitar menghina,
menolak atau mengucilakannya, sehingga dia bisa menjadi sosiopatik. Sekelompok individu lainnya tumbuh dan berkembang
menjadi dewasa dalam lingkungan keluarga atau kelas sosial yang sangat
memilukan seperti kejahatan, kemiskinan kronis, pola asusila dan kebiasaan
mengemis menjadi cara hidup yang melembaga dalam kelompok tersebut. Dalam
situasi dan kondisi demikian, pertumbuhan sosio-psikologis dari pribadi dan
kelompok cenderung menjadi abnormal/menyimpang sebab kebudayaan dan kerangka
organisasi sosial memberikan pengaruh yang memaksa, sehingga tingkah laku
individu menjadi konform/cocok dengan pola perilaku lokal, namun diangap
patologis oleh masyarakat luas. Apabila individu-individu yang sosiopatik itu
berkonflik dengan masyarakat luas , maka konflik ini pada hakikatnya merupakan
konflik antara dua kebudayaan yang berbeda yaitu kebudayaan normal melawan
kebudayaan yang patologis.
v Proses Sosialisasi
Proses sosialisasi pada diri anak dalam
pengoperan pola tingkah laku yang ditolak secara sosial itu(menyimpang
sosiopatik). Proses tersebut berlangsung secara progresif, tidak sadar,
berangsur-angsur, setahap demi setahap, dan berkesinambungan. Maka semua bentuk
pelanggaran terhadap norma-norma sosial itu lalu dirasionalisasi secara
progresif, dibenarkan, ada proses justifikasi dan akhirnya dijadikan pola
tingkah laku sehari-hari.
B. Deviasi
Primer dan Deviasi Sekunder
Saat deviasi-deviasi tadi terorganisasi secara subjektif dalam diri
pribadi, lalu ditransformasikan/diubah dalam bentuk peranan-peranan aktif tertentu. Selanjutnya dijadikan kebiasaan atau kriteria
sosial yang menetap guna mendapatkan status sosial. Pada akhirnya individu yang
menyimpang itu menyadari betul peranan patologis yang dilakukannya.Dia memandang peranan tersebut sebagai hal
yang wajardan cocok dengan pola sosio-psikologis masyarakatnya. Maka
penyimpangan/deviasinya disebut primer. Disebut demikian, selama penyimpangan itu masih dirasionalisasi atau
ditetapkan sebagai fungsi untuk melakukan peranan sosial tertentu. Apabila seorang mulai menggunakan tingkah laku
deviasi itu sebagai alat pembelaan diri, atau alat penyesuaian diri terhadap
segala kesuliata, maka penyimpangannya disebut sebagai sekunder,
dan berlangsunglah deviasi sekunder.
Adapun urutan peristiwa yang menyebabkan terjadinya deviasi sekunder itu
secara ringkas dapat dinyatakan sbb:
- Dimulai
dengan deviasi primer
- Muncul reaksi sosial, hukuman, dan sanksi
- Pengembangan dari deviasi sosial
- Reaksi sosial dan penolakan yang lebih
hebat dari masyarakat
- Pengembangan deviasi lebih lanjut
disertai pengorganisasian yang lebih rapi timbul sikap bermusuh serta
dendam penuh kebencian terhadap masyarakat yang menghukum mereka
- Kesabaran
masyarakat sudah sampai pada batas akhir. Dibarengi penghukuman, tindakan
keras dan mengancam tindakan penyimpangan itu sebagai noda masyarakat
- Timbul reaksi kedongkolan dan kebencian
dipihak si penyimpang, disertai penghambatan tingkah laku yang sosiopatik,
sehingga berkembang menjadi deviasi sekunder. Hilanglah kontrol
rasional, dan dirinya menjadi budak dari nafsu serta kebiasaan yang
sosiopatik atau abnormal. Terjadilah individualisasi dari pribadi yang
sosiopatik
- Masyarakat
menerima tingkah laku sosiopatik itu sebagai realitas konkret atau sebagai status sosial
Jelaslah sekarang bahwa proses
individulisasi dari penyimpang itu merupakan proses perkembangan dengan
saat-saat kritis yang menimbulkan perubahan kualitatif pada pribadi yang
menyimpang
C. Sanksi Sosial
dan Pembatasan Sosio-Kultural
Sanksi yang dikenakan pada orang-orang yang dianggap mempunyi
stigma sosiopatik yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya ialah: membatasi
partisipasi sosialnya. Yaitu dihalang-halangi keikutsertaannyan dalam kegiatan
hidup sehari-hari. Misalnya ditolak menjadi buruh/pegawai, ditolak
permohonannya meminta kredit, dilarang bertempat tinggal disatu daerah, ditolak
masuk tentara. Mereka dikenal hukuman, diusir atau dikucilkan dari masyarakat
umum. Ciri-ciri sosio patik dilihat dari segi seks, umur, kondisi jasmani,kelahiran,
suku bangsa, afiliasi religius, posisi ekonomi dan asal kelas sosialnya. Bentuk pembatasan sosiokultural yang
menghambat partisipasi ekonomi orang-orang yang cacat jasmani ialah penolakan bekerja di
perusahaan-perusahaan, karena alasan ketidakmampuan biologis.
D. Mobilitas pada
individu sosiopatik
Pribadi
dengan mobilitas vertikal dan mobilitas spasial/ruang yang rendah sangat
dibatasi ruang geraknya oleh para anggota kelompok/lingkungan lainnya. Individu
yang dianggap sebagai persona non grata-pribadi yang tidak diterima,
tidak mendapatkan pengampunan-oleh tingkah lakunya yang menyimpang, praktis
akan dikucilkan atau dikeluarkan sama sekali dari semua partisipasi sosial oleh
masyarakat, dan secara geografis tidak banyak berkomunikasi dengan daerah luar. Khususnya
individu yang dianggap berbahaya oleh kepala suku (clan, kampung, kelompok),
akan ditolak sama sekali bahkan diusir
dari daerah tersebut. Maka tekanan-tekanan sosial yang sentripetal-keluar dari
tokoh pemimpin yang dianggap sebagai kekuatan suku-mempunyai daya memaksa yang
kuat sekali.
E. Penyesuaian
Diri, Ketidakmampuan Menyesuaikan Diri, Individu Marginal
Individu
yang terkutuk dan ditolak oleh masyarakat itu pada galibnya tidak bahagia
hidupnya. Mereka mengalami proses demoralisasi dan tidak mampu menyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Khususnya menyangkut kehidupan para penjahat dan
pelacur yang dianggap menganut pola hidup yang sangat memalukan atau asusila.
Indidu yang puas dalam usaha pembenaran-diri dan pendefinisian-diri sendiri,
akan merasa bahagia dan muda menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Sebaliknya, dia akan menjadi sangat tidak bahagia atau sengsara, apabila tidak
ada kongruensi/keseimbangan antara pendefinisian-diri
dengan hukuman sosial antara peranan yang dituduhkan kepada dirinya dan peranan
sosial menurut interpretasi sendiri yang ingin dilakukannya. Jadi, prosesnya
berlangsung sebagai bentuk interaksi antara faktor subjektif dengan faktor
objektif. Proses demikian tidak jarang berlangsung melalui banyak konflik batin
dan krisis jiwa. Pada kasus yang
extream, berlangsunglah ketidak mampuan
penyesuaian diri secara total; ada personal maladjusment
dan kepatahan jiwa secara total atau complete breakdown. Ada juga pribadi-pribadi yang tidak mampu
mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungan disebabkan karena ditolak oleh
masyarakat untuk menjalakan peranan-peranan yang sangat didambakan. Orang-orang
demikian disebut sebagai individu-individu marginal. Pribadi marginal ini
adalah seorang yang dihadapkan pada pilihan peranan. Juga disebabkan oleh
keterbatasan internal atau eksternal tertentu, dia tidak mampu mengintegrasikan
hidupnya atas dasar salah satu satu peranan tersebut.
F. Reaksi
Sosial
Penyimpangan dalam kelompok, masyarakat atau lingkingan sosial itu
biasanya menimbulkan bermacam-macam reaksi dan sikap. Semuanya tergantung pada
derajat/kualitas penyimpangan dan penampakannya , juga tergantung pada harapan
dan tuntutan yang dikenakan oleh lingkungan sosial. Maka norma sosial itu
sifatnya kongpulsif memaksa. Reaksi sosial itu antara lain berupa: kekaguman,
pujian, hormat, pesona, simpati, sikap acuh tak acuh, cemburu, iri hati,
ketakutan, penolakan, kemuakan, hukuman, kebencian, kemarahan hebat, dan
tindakan-tindakan konkret.
Kompleks
dari reaksi-reaksi sosial itu dapat dinyatakan sebagai pusien-toleransi. Yakni
merupakan:
- Ekspresi
subjektif dan kuantitatif terhadap penyimpangan(tingkah laku patologis),
dan
- Kesediaan
masyarakat untuk menerima atau menolak penyimpangan tadi.
Reaksi sosial itu berkembang dari sikap menyukai, ragu-ragu,
apatis, acu tak acuh, sampai sikap menolak dengan hebat. Kemudian, reaksi
tersebut bisa dibagi dalam 3 fase, yaitu:
- Fase
mengetahui dan menyadari adanya penyimpangan
- Fase
menentukan sikap dan kebijaksanaan
- Fase
mengambil tindakan, dalam bentuk: reaksi revormatif, reorganisasi, hukum
(memberikan hukuman), dan sanksi-sanksi.
G. Organisasi
Sosiopatik dan kebudayaan Eksploitatif
Terhadap
organisasi menyimpang, juga terhadap individu buangan dan daera yang dihuni
oleh para penyimpang itu pada umumnya dikenakan sanksi sebagai berikut: lokasi,
penutupan total, isolasi, dan segregasi. Namun, disamping organisasi tersebut
deviiasi yang setengah atau tidak legal itu sering juga di eksploitasi oleh
kelompok politik dan sosial laiinnya. Misalnya
oleh para dokter, psikiater, politisi, jaksa, hakim, pejabat lokal,
polisi, dan lain-lain, untuk dijadikan lembu perahan dan sumber keuangan
inkonvensional. Juga surat kabar sering kali membesar-besarkan peristiwa, dan
mempertinggi penampakan/fisibilitas aktifitas patologis guna menambah sirkulasi
jumlah korannya. Disebabkan oleh kondisi para penyimpang yang sosiopatik, dan
oleh statusnya yang ekstra legal, illegal, ambigius meragukan, sangat lemah,
atau mempunyai aspirasi untuk mendapatkan “status normal” (misalnya ingin
menjadi warga negara indonesia/mendapat paspor dan lainnya).
Beberapa teknik eksploitasi yang bisa
dicatat antara propaganda melalui media massa, televisi, radio, periklanan,
fitnahan dan pemerasan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut kaum sosiolog tingkah laku
sosiopatik adalah tingkah laku yang berbeda dan menyimpang dari kebiasaan serta
norma umum, yang ada pada suatu tempat dan waktu tertentu yang ditolak
sekalipun tingkah laku tersebut di tempat dan waktu lain bisa diterima oleh
masyarakat lainnya.
Sosiopatik
atau dapat pula disebut psikopatik adalah tingkah laku yang menyimpang dari
norma masyarakat dimana pelakunya bukanlah pengidap penyakit mental dan tidak
mempedulikan keadaan sekitar (anti sosial).
DAFTAR PUSTAKA
Kartono, kartini.
2011. Patologi Sosial, jilid 1, Jakarta: Rajawali Pers.
Irvanhavefun.blogspot.com/2012/03/tingkah-laku-sosiopatik.html.
Find casinos near you - DrmCD
BalasHapusFind your 양주 출장안마 nearest gaming areas and a look 원주 출장안마 for the casinos with the 순천 출장마사지 closest 용인 출장안마 proximity and casinos near your area - DrmCD 고양 출장샵 offers you the best of both worlds.